Kebudayaan Bugis-Makassar

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Historis

Kebudayaan Bugis-Makassar adalah kebudayaan dari suku-suku Bugis-Makassar yang mendiami bagian terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Jazirah itu adalah provinsi Sulawesi selatan sendiri yang sekarang terdiri dari 24 kabupaten. Mengenai asal mula suku Bugis, suku Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata Bugis berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana (Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka.  Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading  Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.


Lain halnya dengan suku Bugis, nama Makassar berasal dari nama Melayu untuk sebuah etnis yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara’  berarti Mereka yang Bersifat Terbuka. Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB, Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin kerjasama dengan Bali, Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional (khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya.

1.2. Perkembangan

Suku Bugis-Makassar adalah suku yang sama-sama menempati Sulawesi selatan,  berbicara tentang Makassar maka identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.

BAB II
KEBUDAYAAN BUGIS-MAKASSAR

2.1. Keadaan Geografis dan Demografis

Populasi terbesar suku Bugis-Makassar terpusat di Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sulawesi Selatan terletak di jazirah selatan Pulau Sulawesi, yang beribukotakan di Makassar terletak antara 0°12’ – 8° Lintang Selatan dan 116°48’ – 122°36’ Bujur Timur. Secara administratif berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di sebelah timur, batas sebelah barat dan timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores.

Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tercatat 45.519,24 km2 yang secara administrasi pemerintahan terbagi menjadi 24 kabupaten dan 3 kota, dengan 296 kecamatan dan 2.946 desa/kelurahan.

Saat ini, orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan).

Kabupaten Luwu Utara merupakan kabupaten terluas dengan luas 7.502,68 km2 atau luas kabupaten tersebut merupakan 16,48% dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Sedangkan Sulawesi Selatan, 42% dari luas seluruh pulau Sulawesi atau 4,1% dari luas seluruh Indonesia.

Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan Biro Dekonsentrasi Bagian Kependudukan Pemprov. Sulawesi Selatan pada tahun 2008 berjumlah 7.874.439 jiwa, dengan persentase yang bersuku Bugis-Makassar sekitar  85 persen, yang tersebar di 24 kabupaten/kota, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.265.521 jiwa (16,07%) mendiami Kota Makassar. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Makassar dimungkinkan karena terjadinya arus urbanisasi dari daerah lainnya di Sulawesi Selatan terutama untuk melanjutkan pendidikan, disamping daerah ini merupakan pusat pemerintahan dan konsentrasi kegiatan ekonomi.

Kepadatan penduduk per km2 di Sulawesi Selatan rata-rata 173 jiwa/km. Kota Makassar merupakan kabupaten/kota terpadat (7.200 jiwa/km2), menyusul Kota Parepare (1.201 jiwa/km2) kemudian Kota Palopo (842 jiwa/km2). Sedangkan kab/kota dengan tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu kab. Luwu Timur (34 jiwa/km2), Luwu Utara (39 jiwa/km2) dan Enrekang (94 jiwa/km2). Tujuh belas (17) kabupaten lainnya rata-rata mempunyak tingkat kepadatan penduduk antara 100-500 jiwa/km2 yaitu Selayar Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Sinjai, Maros, Pangkep, Barru, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Tator dan Luwu. Masyarakat Bugis-Makassar tersebar di dataran rendah yang subur dan sekitar pesisir pantai. Iklim yang adapun terbilang seimbang karena tiap tahunnya terjadi pergantian musim, yakni musim kemarau  dan musim hujan. Perubahan musim yang terjadi tiap tahunnya membuat wilayah ini sebagai wilayah yang subur yang dapat ditumbuhi berbagai jenis tanaman.

2.2. Bentuk Perkampungan

Bentuk desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan-kesatuan administratif, gabungan sejumlah kampong lama (desa gaya baru). Suatu kampong lama, biasanya terdiri dari sejumlah keluarga yang mendiami 10-200 rumah, letak rumahnya berderet  menghadap ke selatan atau barat. Jika terdapat sungai di desa maka diusahakan agar rumah-rumah dibangun dengan gaya membelakangi sungai. Pusat dari kampong lama merupakan suatu tempat keramat (pocci tana) dengan suatu pohon waringin yang besar dan kadang-kadang terdapt juga rumah pemujaan (saukang).

Sebuah kampong lama dipimpin seorang motowa (kepala desa) beserta kedua pembantunya disebut sariang  atau  parennung. Gabungan kampong dalam struktur asli disebut  wanua dalam bahasa Bugis pa’rasangan atau bori  dalam bahasa Makassar. Pemimpin wanua  disebut (arung palili) untuk suku Bugis, Makassar sendiri yakni(karaeng) .

Bentuk rumah dan masjid, dibangun diatas tiang dan terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai fungsi khusus yaitu : a. rakaeng dalam bahas Bugis atau  pammakkang dalam bahasa Makassar, yakni bagian rumah dibawah atap yang dipakai untuk menyimpan padi, persediaan pangan, dan juga benda-benda pusaka b. awaso dalam bahasa Bugis atau passiringang dalam bahasa Makassar, bagian dibawah lantai panggung  dipakai untuk, menyimpan alat-alat pertanian , kandang ayam, kambing, dan sebagainya. Pada zaman sekarang tempat ini berubah fungsi  menjadi tempat tinggal manusia.

Hampir semua rumah Bugis dan Makassar yang berbentuk adat, mempunyai suatu pangggung di depan pintu masih dibagian atas dari tangga, panggung ini biasa disebut tamping, tempat bagi para tamu untuk menunggu sbeleum dipersilahkan oleh tuan rumah untuk masuk keruang tamu.

Proses pembangunan untuk rumah suku Bugis dan Makassar, biasanya menggunakan beberapa ramuan pada tiang utama yang akan didirikan, bahakan, kadang-kadang menggunakan kepala kerbau setelak kerangka rumah berdiri. Proses semacam ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya malapetaka.

2.3. Sistem Kekerabatan

a)  Pernikahan

Pernikahan adalah salah satu cara untuk melanjutkan  keturunan berdasarkan cinta kasih, selanjutnya  pernikahan juga memperat hubungan antar keluarga, antar suku, bahkan antar bangsa. Dengan hubungan pernikahan dapat membuat suatu ikatan yang disebut  massedi siri berarti bersatu dalam mendukung dan mempertahankan kehormatan keluarga. Pernikahan ideal yakni terjadi bila mereka mendapat jodoh dalam lingkup keluarganya sendiri seperti a) siala massappisiseng yakni pernikahan antarsepupu sekali, b) siala massappokadua yakni pernikahan antrsepupu kedua kali, c) siala massappokatellu yakni pernikahan antara spepupu ketiga kali

b) Pembatasan jodoh

Dalam masyarakat Bugis dikenal adanya pelapisan sosial golongan, maka terjadi pula pembatasan jodoh dalam hubungan pernikahan. Pada zaman lampau anak keturunan bangsawan dilarang berhubungan dengan orang biasa, jika dilanggar maka pasangan ini dikenakan hukuman riladung yang artinya pelanggar dikenakan hukuman berat yaitu keduanya akan ditenggelamkan kedalam air.

c) Syarat-Syarat Untuk Menikah

Seorang pria yang akan menikah harus memenuhi syarat yakni : nallebi mattulilingi dapurengnge wekka pittu, artinya ia harus mampu mengelilingi dapur sebanyak tujuk kali, bila ia mampu mengadakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari maka ia boleh kawin.

d) Tata Cara Peminangan

Mappesek-pesek suatu cara untuk mengetahui sudah terikatnya si wanita yang dipilih atau tidak samasekali. 

Madduta yakni pengiriman utusan dari pihak pria untuk mengajukan lamaran. Utusan ini harus orang yang dituakan dan tahu seluk beluk madduta.

e) Waktu Pelaksana Pernikahan

Tahap yang ditempuh untuk menikah yakni acara mappetu ada atau memutuskan kata sepakat, di acara ini juga dibahas masalah tanra esso (penentuan hari), balanca (uang belanja), dan sompa (mahar)

f) Mappacci

Mappacci yakni perawatan bagi calon pengantin wanita sebelum pelaksaan pernikahan.

Selain upacara pernikahan terdapat juga upacara keselamatan kehamilan dan upacara kematian, dalam upacara keselamatan kehamilan tahapan yang dilakukan yakni: makkampai sandro (menghubungi dukun), mappare to mangideng (memberi makan orang mengidam. Dalam upacara kematian  biasanya diutus dua atau tiga orang untuk memberi tahu kerabat dekat kemudian, penguburan akan dilaksanakan, setelah dilaksanakan akan diadakan bilampeni atau upacara keselamatan yang diadakan sejak hari penguburan jenazah, dan mattampung pada hari ketujuh dan kesembilan diadakan upacara ini.

2.4. Sistem Kemasyarakatan

H. J. Friedericy menggambarkan pelapisan masyarakat Bugis dan Makassar yang dibuatnya berdasarkan buku kesusteraan asli Bugis dan Makassar, la galigo. Menurut nya terdiri dari tiga lapisan yakni:

a) anakarung atau ana’karaeng dalam bahasa Makassar. Lapisan ini adalah lapisan kaum kerabat raja-raja.
b) to maradeka dalama bahasa Makassar, lapisan ini adalah lapisan orang merdeka. 
c) ata, yakni lapisan budak.

Dalam usahanya untuk mencari latar belakang terjadinya pelapisan masyarakat, Friedericy berpedoman kepada peranan tokoh-tokoh yang disebut dalam la galigo dan ia berkesimpulan, bahwa masyarakat Bugis dan Makassar pada mulanya hanya terdiri dari dua lapisan masyarakat. Lapisan  Ata merupakan suatu perkembangan kemudian yang terjadi dalam zaman perkembangan dari organisasi-organisasi  pribumi di Sulawesi Selatan.
Pada abad ke-20 lapisan ata dihilangkan karena larangan dari pemerintah colonial dan desakan dari tokoh agama setempat. Sesudah perang dunia ke-2, arti dari perbedaan antara lapisan karaeng, to maradeka, dan ata. Dalam kehidupan masyarakat juga sudah mulai berkurang dengan cepat, walaupun masih dipakai, toh tidak lagi mempunyai arti seperti dulu dan sekarang justru sering diperkecil dengan sengaja . Sebab Stratifikasi social lama, sering dianggap sebagai hambatan untuk kemajuan. 

2.5. Religi dan Adat yang Keramat

Orang Bugis dan Makassar yang tinggal di daerah pedesaan masih terkait norma-norma yang keramat dan sifatnya sakral, biasa disebut panngaderreng. Sistem adat ini terbagi menjadi 5 unsur:

a)Ade, terbagi menjadi dua
Ade akkalabinengeng, unsur  ini mengenai hal ikhwal perkawinan serta hubungan kekerabatan dan sopan santun dalam pergaulan antarkerabat.
Ade tana, unsur ini mengenai hal ikhwal bernegara dan memerintah suatu negara berwujud hokum negara, hokum antarnegara, serta etika dan pembinaan insan politik.
b)Bicara, adalah konsep yang bersangkut paut dengan paradilan atau kurang lebih sama dengan, hukum acara serta hak-hak dan kewajiban seseoranmng yang mengajukan kasusnya ke pengadilan.
c)Rappang, berarti contoh, perumpamaan, kias, atau anologi. Unsur ini menjaga kepastian dari suatu hukum tak tertulis, dalam masa lampau sampai sekarang. Selain itu rappang juga berisi pandangan-pandangan keramat untuk mencegah tindakan-tindakan yang bersifat gangguan terhadap hak milik, serta ancaman terhadap warga negara.
d)Wari, adalah unsur yang mengklasifikasikan segala benda, peristiwa, dan aktifitas dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, untuk memelihara tata susunan dan tata penempatan benda di kehidupan bermasyarakat, untuk memelihara jalur keturunan yang mewujudkan pelapisan sosial, untuk memelihara hubungan kekerabatan antara raja suatu negara dengan raja negara lain.
e)Sara, unsur yang mengandung pranata-pranata dan hukum islam, serta unsur yang melengkapi keempat unsur lainnya.

Religi suku Bugis dan Makassar pada zaman pra islam adalah sure galigo, sebenarnya keyakinan ini telah mengandung suatu kepercayaan pada satu dewa tunggal, biasa disebut patoto e (dia yang menentukan nasib), dewata seuwae (tuhan tunggal), turie a rana (kehendak yang tertinggi). Sisa kepercayaan ini masih tampak jelas pada orang To latang dikabupaten Sidenreng Rappang dan orang Amma Towa di Kajang kabupaten Bulukumba.

Saat agama islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal ke-17, ajaran agama islam mudah diterima masyarakat. Karena sejak dulu mereka telah percaya pada dewa tunggal. Proses penyebaran islam dipercepat dengan adanya kontak terus menerus antara masyarakat setempat dengan para pedagang melayu islam yang telah menetap di Makassar.       

Pada abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian dari panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang taik sesuai dengan ajaran Islam, dan karena itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam di Sulawesi Selatan telah juga mengalami proses pemurnian.

Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari pendatang-pendatang orang Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja. Mereka ini tinggal di kota-kota terutama di Makassar.

Kegiatan-kegiatan da'wah Islam dilakukan organisasi Islam yang amat aktif seperti Muhammadiyah, Darudda'wah wal Irsjad, partai-partai politik islam dan Ikatan Mesjid dan Mushalla dengan Pusat Islamnya di Makassar.

2.6. Mata Pencaharian Hidup 

Masyarakat Bugis dan Makassar pada umumnya adalah petani seperti penduduk dari daerah-daerah lain di Indonesia. Mereka menanam padi bergiliran dengan palawija di sawah. Teknik bercocok tanamnya juga seperti di tempat-tempat lain di Indonesia masih berisfat tradiosonal berdasarkan cara-cara intensif dengan tenaga manusia. Di berbagai tempat di pegunungan, di pedalaman dan tempat-tempat terpencil lainnya di Sulawesi Selatan, banyak penduduk masih melakukan bercocok tanam dengan teknik peladangan.

Adapun mereka yang tinggal di desa-desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata pencarian hidup yang amat penting. Dalam hal ini orang Bugis dan Makassar menangkap ikan dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Memang orang Bugis dan Makassar terkenal sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka yang dari tipe penisi dan lambo telah mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan Filipina untuk berdagang. Kebudayaan maritim dari orang Bugis-Makassar itu tidak hanya mengembangkan perahu-perahu layar dan kepandaian berlayar yang cukup tinggi, tetapi juga meninggalkan suatu hukum niaga dalam pelayaran, yang disebut Ade' Allopi-loping Bicaranna Pabbalu'e dan yang tertulis pada lontar oleh Amanna gappa dalam abad ke-17. Bakat berlayar yang rupa-rupanya telah ada pada orang Bugis dan Makassar, akibat kebudayaan maritim dari abad-abad yang telah lampau itu. Sebelum Perang Dunia ke-II, daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah surplus bahan makanan, yang mengekspor beras dan jagung ke tempat-tempat lain di Indonesia. Adapun kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah tenunan sarung sutera dari Mandar dan Wajo dan tenunan sarung Samarinda dari Bulukumba.

2.7. Bahasa, Kesusasteraan, dan Tulisan

Bahasa yang diucapkan oleh suku Bugis disebut bahas  ugi sementara suku Makassar disebut mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam naskah Bugis maupun Makassar yakni,  aksara lontara  yaitu sebuah system huruf yang asalnya dari huruf sansekerta ( brahmi kuno dari India).

Mengenai kesusteraan Bugis-Makassar sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Utamanya, dalam naskah-naskah kesusteraan lontara. Adapun naskah-naskah kuno yang ditulis di daun lontara, kini sangat sulit didapatkan. Naskah kuno yang ada kini, hanya yang tertulis diatas kertas maupun lidi ijuk(kallang), diantara buku terpenting dalam kesusteraan suku Bugis-Makassar terdapat buku sure galigo, suatu himpunan besar dari mitologi yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat.

Tetapi, ada juga himpunan kesusteraan yang isinya sebagi pedoman dan tata kelakuan untuk setiap individu, seperti himpunan amanat dari nenek moyang(paseng), himpunan undang-undang, keputusan dan peraturan pemimpin adat(rappang), kemudian terdapat juga himpunan kesusasteraan yang mengandung sejarah, seperti silsilah raja-raja(attoriolog) dan cerita mengenai para pahlawan yang dibubuhi cerita legendaries(pau-pau). Serta, banyak lagi yang berisi syair, nyanyian, dan teka-teki.

BAB III
PENUTUP

3.1. Ringkasan

Suku Bugis-Makassar mendiami bagian terbesar dari jazirah Pulau Sulawesi.  Suku Bugis dan Makassar merupakan dua suku yang masih serumpun, yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia. Persentase jumlah penduduk suku Bugis di Sulawesi Selatan adalah sekitar 62,5% dan suku Makassar sekitar 26,7%. Bentuk desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan-kesatuan administratif, gabungan sejumlah kampong lama (desa gaya baru). Sistem kekerabatan dalam kebudayaan Bugis-Makassar masih cukup kental seperti dapat dilihat dalam proses perkawinan yang memiliki beberapa ketetapan ideal. Lapisan masyarakat Bugis dan Makassar terdiri dari 3 yaitu anak arung atau lapisan kaum kerabat raja-raja, to maradeka atau lapisan orang merdeka dan ata atau lapisan orang budak.

Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Karena masyarakat Bugis dan Makassar tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang.  Kemudian ada sisi seni juga yang biasanya menjadi mata pencarian bagi suku Bugis dan Makassar, yakni pembuatan sarung tenun sutra. Bahasa yang diucapkan oleh suku Bugis disebut bahas  ugi sementara suku Makassar disebut mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam naskah Bugis maupun Makassar yakni,  aksara lontara. Diantara buku terpenting dalam kesusasteraan suku Bugis-Makassar adalah buku sure galigo, suatu himpunan besar dari mitologi yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat.

3.2. Potensi Pengembangan di Era Modernisasi

Potensi paling besar bagi masyarakat Bugis-Makassar adalah dalam sektor pelayaran rakyat dan perikanan, karena usaha-usaha ini sudah merupakan usaha-usaha yang telah dijalankan sejak beberapa abad lamanya oleh orang Bugis-Makassar, sehingga dapat dikatakan telah mendarah daging dalam alam jiaw mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Suruji. 2007. Peter Spillet Yakin Orang Makassar Penemu Australia. Available online at http://andi-suruji.blogspot.com/2007/11/peter-spillett.html, diakses tanggal 14 Oktober 2009.

Gusti NC Aryan, 2008. Syekh Yusuf, Tali Sejarah Indonesia-Afsel. Antara News, Jakarta.

Koentjaraningrat, 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Penerbit Djambatan Jakarta.

Sudarianto. 2009. Kepadatan Penduduk Sulawesi Selatan per km2 tahun 2008. Available online at:  http://datinkessulsel.wordpress.com/2009/05/28/ jumlah-penduduk-sulsel-per-km2-tahun-2008, diakses tanggal 12 Oktober 2009.

Telukbone. 2008. Suku Makassar. Available online at http://telukbone.wordpress.com/2008/05/07/suku-makassar. Diakses 8 Oktober 2009.

Wikipedia, 2009. Suku Bugis. Available online at http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis, diakses tanggal 8 Oktober 2009.

_________, 2009. Suku Makassar. Available online at http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Makassar, diakses tanggal 8 Oktober 2009.

1 comments:

PAK KARDI said...

INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_ 4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT



INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_ 4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT


INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_ 4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT

Post a Comment